Sunday, December 28, 2008

Ge Er

GR (baca: Gé éR= Gedé Rasa)

GR (baca: Gé éR= Gedé Rasa)

December 14th, 2008 | Published in Slang

“Hai.. apa kabar sayang? Udah lama banget ya kita nggak ketemu… Kamu makin cantik aja… 20 tahun ada kali ya kita nggak ketemu.. terakhir waktu kamu jadi Teller di Bank Niaga… Kamu masih kerja? Atau udah jadi nyonya besar?” begitu banyak pernyataan dan pertanyaan yang Irvan lontarkan pada saat bertemu dengan Sari di Acara Reuni besar SMP nya dulu.

Sari hanya senyum-senyum saja mendengar pujian Irvan yang ditujukan padanya. Namun dalam hatinya dia merasa GR. Ada rasa senang dan rasa tersanjung. Di usianya yang sudah tidak muda lagi ternyata masih ada pria yang menganggapnya cantik. Padahal Sari sadar betul bahwa dia sudah tidak secantik masa-masa remaja dulu. Sudah timbul sedikit-sedikit keriput tentunya diusianya yang hampir 50, 3 tahun lagi.

Dan yang membuat hatinya semakin berbunga bunga adalah karena Irvan juga memanggilnya ‘sayang’. Rasanya sudah lama sekali Sari tidak pernah mendengar kata itu. Dulu jaman masih pacaran dengan pria yang kini menjadi suaminya memang selalu memanggilnya ‘sayang’. Namun seiring dengan berjalannya waktu kata itu hampir tidak pernah keluar lagi dari mulut suaminya.

Dengan tidak sabar, sambil berbinar-binar dan dengan bangganya Sari langsung menceritakan sanjungan Irvan tadi kepada Susi yang sedari tadi memperhatikan dari jauh keakraban yang terjalin antara Irvan dan Sari.”Sus, kayaknya Irvan suka sama gue deh …”.

“Yah Sar……. kamu ke-GR-an amat sih. Irvan memang begitu. Semua cewek- cewek sama dia dipanggil sayang dan semua orang dia bilang cantik… bahkan kadang-kadang seksi… Kata-kata itu sudah jadi bahasa sehari harinya Irvan. Bukan berarti dia naksir kamu.” kata Susi sambil tertawa geli.

“Aku sih nggak pernah merasa GR kalau ada cowok panggil aku sayang. Karena aku sendiri sering kok GR-GR-in cowok,” kata Susi lagi tanpa merasa bersalah bahwa jawabannya sedikit banyak menghancur luluhkan rasa senang dan rasa ketersanjungan Sari. Namun buat Susi penting sekali menyadarkan Sari pada kenyataan bahwa keramah tamahan Irvan bukan berarti dia menyukai Sari secara khusus.

GR adalah singkatan dari Gede Rasa. Gede berasal dari bahasa Jawa yang artinya besar. Rasa berhubungan dengan perasaan seseorang. Jadi GR atau Gede Rasa artinya bisa merasa tersanjung yang tidak pada tempatnya; merasa penting atau terlalu percaya diri bahkan salah paham; bisa juga berarti perasaan senang dalam jumlah besar(gede=besar) atau berlebihan. GR adalah kata sifat. Dari kata ini kemudian timbul kata benda ke-GR-an. Dan ‘GR-GR-in’ adalah bentuk kata kerja slang yang artinya membuat seseorang merasa GR.

“Hebat lo…! Orang-orang belum selesai ulangannya, lo udah keluar duluan…” begitu komentar Chacha kepada Mario di kantin sekolah, usai ulangan Matematika. Padahal menurut Chacha ulangan Matematika barusan cukup sulit.

“Tenang Cha… begitu gue liat soalnya, ternyata nggak beda dengan contoh soal tahun lalu. Nilai 9 aja sih udah di tangan….”, kata Mario degan gaya yakin.

GR lo! Angka-angka hitungannya kan belum tentu sama? Siapa tahu angkanya dirubah,” ujar Chacha berusaha menepis keyakinan mario yang berlebihan itu. Keyakinan akan suatu hal yang berlebihan juga bisa dikatakan GR.

Merasa GR memang suatu perasaan yang menyenangkan selama kita mampu membedakan mana yang nyata dan mana yang bukan. Karena kalau kita mudah GR bisa repot urusannya, orang akan mudah mempermainkan perasaan kita. Apakah Anda sering merasa GR dalam hidup Anda?

Nina Muriza

Comments are closed.

Thursday, December 11, 2008

Ada sopan santun dan tata cara pada saat kita menjalin suatu hubungan.
Untuk menjaga suatu hubungan tetap terjalin dengan baik, yang terpenting adalah..
Keikhlasan menerima apa adanya keadaan dari orang-orang disekeliling kita tanpa melihat status dan keberadaan mereka adalah salah satu kunci untuk menjaga hubungan itu tetap terjalin dengan baik...

Saling menerima kekurangan dan kelebihan masing2 merupakan pemanis suatu hubungan...
Serta Kasih sayang dan pengertian, akan memperdalam hubungan itu menjadi kekal dan abadi....



Semoga

Monday, December 8, 2008

Dari Sabang Sampai Merauke

"Selamat siang....!"
"Siang paaaak....." Jawab anak2 sambil terkantuk-kantuk.... di tengah jam pelajaran terakhir mereka.
Pelajaran Geografi adalah pelajaran yang paling anak-anak nggak suka.. selain pelajarannya yang nggak menarik.. gurunya pun nggak ngenakin banget....

Si Kotak sibuk dengan game di Hpnya..... Sambil senyum-senyum Chacha, Anjani dan Juwita sibuk melihat foto-foto narsis mereka di Hp Munaf..... Sementara Munaf sedang curhat ke Mario mengenai CLBK nya dengan Ekky... Sekelompok Anak-anak yang duduk di deretan belakang merebahkan kepalanya diatas meja, sebagian kecil murid saja yang berusaha untuk mendengarkan penjelasan Pak Husni.

Di tengah hiruk pikuk kelas... Suara Pak Husni terdengar menggelegar....
"Anak-anak....!!! Siapa yang bisa menyanyikan lagu Dari Sabang Sampai Merauke??"
Semua diam dan tidak ada satupun anak-anak yang berani mengacungkan jarinya tanda bisa...
Sambil menahan tawa, Mereka saling melihat satu sama lain... karena tidak ada satupun diantara Mereka yang mengerti apa yang dikatakan Pak Husni...

"Memalukan....! Kalian adalah penerus bangsa..! Kalian tidak tau Lagu-lagu perjuangan para pahlawan kita pada masa perjuangan dulu.... Kalian hanya tau lagu-lagu kacangan.. lagu-lagu cengeng yang mendayu-dayu.. yang tidak ada rasa ke Patriotan nya sama sekali...!" masih dengan suara menggelegar Pak Husni kesal atas reaksi murid-muridnya.

Belum lagi Pak Husni melanjutkan kemarahannya.. Tiba-tiba terlihat sebuah acungan tangan dari deretan kursi paling depan.. Nisa yang duduk disebelah pusat acungan tangan itu jadi bingung... tidak percaya.. "Ai??" desahnya lirih..

"Ya Ai....! coba kamu nyanyikan lagu Dari Sabang Sampai Merauke...!"
Dengan Pe De nya Ai berdiri... Semua menunggu dengan hening..
"Dari sabang sampai merauke..." Ai mulai menyanyi....
Belum selesai Ai menyanyikan syair berikutnya... Suara gemuruh dan tawa dari warga kelas X-2 memecahkan konsentrasi Ai...
Nada yang Ai nyanyikan ternyata mengingatkan mereka pada lagu iklan Indomie yang sering mereka dengar dimana-mana.
Dengan tersipu-sipu dan muka merah padam, Ai kembali duduk.

Pak Husni berusaha menenangkan suasana kelas..
Sambil menulis syair lagu Dari Sabang Sampai Merauke Di White Board di depan kelas...
Dan mengajak anak-anak untuk menyanyikannya bersama-sama dengan semangat perjuangan yang di lakukan para Pahlawan kita dahulu......

Dari Sabang sampai Merauke
berjajar pulau-pulau..
Sambung menyambung
menjadi satu
itulah Indonesia..

Indonesia tanah airku
Aku berjanji padamu
Menjunjung tanah airku
Tanah Airku Indonesia...

(indomie seleraku........)

Hilang rasa kantuk yang dirasakan kelas X-2 siang itu...







Semoga tidak terjadi lagi...